Berpetualang di negara Turki Part 2

Berpetualang di negara Turki

Berpetualang di negara Turki – Sejarah kontemporer Turki juga tak lepas dari pergulatan identitas ini. Salah satu puncaknya adalah pada masa Mustafa Kemal Attaturk, Presiden Turki pertama, 1934, yang mencabut sistem Islam dan menggantinya dengan sistem Barat. Pendulum kemudian bergerak ke kanan dengan tumbuhnya Islam konservatif yang dipimpin Presiden Erdogan, sejak 2014.

Dua puluh hari menyusuri Turki, Istanbul-Cappadocia-Pamukkale-Kusadasi-Ephesus, saya juga mencicip tarik-ulur identitas itu. Mungkin juga karena saya terpengaruh oleh novel-novel Pamuk. Saya memang menjelajah Turki dengan berbekal sudut pandang karya Pamuk, khususnya My Name Is Red, Istanbul-Memories of A City, Red Haired Woman, dan Museum of Innocence. Saya menginap di hotel kecil di Cihangir, tak jauh dari Museum of Innocence, Istanbul. Ini museum kecil saja, bukan bangunan gigantis seperti gedunggedung lain di Turki.

Di sini, pengunjung diajak menyaksikan hampir 200 kotak yang berisi visualisasi adegan novel. Pamuk mengantarkan perjalanan pengunjung melalui narasi, menjelaskan makna kotak demi kotak. Buat saya, yang menarik adalah Pamuk menambahkan informasi konteks realitas di museum itu. Kalangan elite Turki, 1970-an, setting percintaan pasangan dalam novel Fusun dan Kamal Basmaci juga mengalami pergulatan identitas.

Di sebuah kotak terpampang foto deretan wajah perempuan yang matanya ditutup warna hitam, seperti pelaku kriminal atau korban pemerkosaan. Rupanya, gadis yang berhubungan seksual sebelum menikah dikenai sanksi sosial yang berat. Ayah-ayah yang murka memasang foto wajah anak gadis mereka dengan mata ditutup hitam di koran lokal. Wah. Celaka betul buat si gadis.

Setelah menikmati Museum of Innocence yang muram, saya naik trem menyusuri Sultanahmed, mencari suasana yang lebih cerah. Pergulatan identitas masih terus berlangsung di Turki masa kini, tapi dengan irama yang lebih rileks dan menyenangkan. Sore di bulan Ramadan itu, banyak orang berbondong menuju Masjid Biru. Mereka berkelompok, ayah, ibu, kakek, paman, juga anak-anak, membawa bekal makanan. Sejak pukul 4 sore mereka duduk di taman di halaman masjid. Ketika azan asar dan magrib berkumandang, tak banyak yang beranjak salat ke masjid.

Sebagian besar tetap bercengkerama di taman, tak sedikit yang asyik makan kacang walnut bakar dan jagung rebus. Pukul 08.20 malam, saat berbuka datang. Adzan bergema. “Come here, we are family,” kata mereka menyapa saya, menawarkan buka puasa bersama dengan bekal kebab yang dibawa dari rumah. Istanbul memang penuh warna. Namira, perempuan muda di sebuah kafe di Beyoglu, bercerita. “Saya berhijab.

Tapi bukan berarti saya konservatif,” katanya. Gadis lulusan Universitas Turki ini juga gemar berdansa, main musik, pacarn, dan sesekali minum bir atau wine. “Saya yakin, 80 persen orang Turki tidak religius, setidaknya bukan seperti yang dicitrakan Erdogan,” katanya. Lelaki Turki yang saya jumpai pun seperti Namira, membawa paduan modern dan religius yang rileks. Jas, vest, celana dengan jahitan rapi jali menemani penampilan mereka. Sepatu bot kulit disemir rapi. Rambutnya rapi hasil trimming di barber shop saban minggu tanpa absen.

Seutas tasbih terselip di jarinya. Saya bertanya, “Anda berdoa apa dengan tasbih itu?” Dengan tergelak dia menjawab, “Haha, Nona, ini cuma seperti gantungan kunci saja. Saya putar-putar saja,” katanya. Lalu, dia mencium tangan saya, “Anda harus lebih banyak mengenal pria Turki.” Matanya yang serupa warna biji almond meredup. Hadeuh. Suatu malam saya menyaksikan pentas tari darwis, tarian sufi, yang hikmat dan khusyuk. Ja ngankan memotret, beranjak ke toilet pun tak boleh. Semua harus khusyuk menyaksikan para darwis berputar, berputar, dan berputar dengan kostum yang khas.

Lalu, 30 menit kemudian, di panggung yang sama muncul perempuan dan laki-laki berkostum ketat. Mereka menampilkan tari perut, tarian perang, juga tarian kolosal di tengah padang pasir. Seksi? Tentu saja. Di ujung perjalanan, Idul Fitri datang. Sepanjang hari orang-orang menyemut di Lapangan Taksim. Di sebuah sudut lapangan, anak-anak muda berjoget bersama. Ada yang berhijab, berbaju tank top, menari mengiringi nyanyian dan tabuhan perkusi, pada malam Idul Fitri. Ratusan orang yang lalulalang di Taksim mampir turut berjoget. Semuanya riang. “Hadi dans edelim,” kata Ibrahim sambil mengetikkan perkataannya di Google Translate telepon seluler. Ah, rupaya dia mengajak saya menari.