Teknologi Budidaya Padi di Lahan Berpirit Bagian 2

Benih berlabel

Dari pengalamannya selama ini, setelah mengaplikasikan paket produk PAT, total biaya yang dikeluarkan menjadi sekitar Rp3 juta per ha. Padahal, sebelum menggunakan produk-produk PAT, total biaya yang dikeluarkan sekitar Rp5 juta. Ada penghematan penggunaan pupuk kimia. Dalam hal benih, Gupuh menggunakan varietas Pandan Wangi tidak berlabel. Dengan sistem tanam benih langsung (tabela) diperlukan benih 110 kg per ha. Hasil produksinya sekitar 7 ton GKP per ha. Tapi kalau benih berlabel diperlukan 80 kg per ha. Hasilnya, menurut Gupuh, bisa mencapai 10 ton GKP per ha karena kemurnian benih berlabel relatif lebih tinggi. Pada pertengahan atau akhir Mei ini Gupuh berencana memanen padi yang ditanam awal Februari lalu. “Berikutnya saya akan menggunakan benih berlabel ungu (benih pokok atau stock seed),” ungkap Gupuh. Benih pokok merupakan keturunan benih dasar (foundation seed) yang berlabel putih. Dengan menebar benih berlabel ungu, ia berharap bisa menghasilkan benih sebar (extention seed) berlabel biru yang dapat digunakan untuk penanaman padi pada musim berikutnya. Dengan harga GKP Rp3.900 per kg dan hasil sekitar 7 ton per ha, pendapatan kotornya sekitar Rp27,3 juta/ha. Dikurangi biaya Rp3 juta per ha, peng hasilan bersih Rp24,3 juta ha. Semestinya, menurut Reza Palevi, harga padi bebas residu pestisida ini le bih tinggi. “Tapi karena belum bersertifikat (bebas residu), harganya masih sama dengan gabah biasa,” kata ahli agronomi PAT itu.

Bertani itu enak

Mengilas balik sejarah, Gu puh bercerita, pada April 1980, ia bersama adiknya, Riyadi, ikut orang tuanya bertransmigrasi ke Desa Telang Rejo, Keca – mat an Muara Telang, Kabupaten Banyu – asin, Sumatera Selatan. Sementara kakak – nya, Siadi, tetap di Batu, Malang. Keluarga ini mendapat lahan garapan 2 ha dan la – han rumah ¼ ha. “Waktu zaman Pak Harto itu kami langsung mendapatkan sertifikat hak milik,” tutur Gupuh. Selain menggarap lahan pasang surut, pada awalnya keluarga ini juga mengambil upahan dari warga setempat. Antara lain mengangkut kayu dan menanam pa – di. Lama kelamaan, berkat ketekunan, akhir nya keluarga ini berhasil. Kini Gupuh sendiri memiliki lahan sawah pasang surut sekitar 12 ha. Secara total luas lahan pa – sang surut di Desa Telang Rejo ini sekitar 2.000 ha. Jumlah penduduk di desa ini mencapai 2.322 orang. Di sini terdapat 18 kelompok tani. Satu kelompok 32 orang dengan total lahan 64 ha. “Tapi kebanyakan petani di sini memiliki lahan rata-rata 5 ha,” kata Gu puh. Bertani itu enak. “Kami udah ke ras an di sini. Bahkan kami ikut memba ngun rumah kakak di Malang,” imbuh Gu puh yang Maret lalu menunaikan ibadah umroh. Jangan heran, dalam membeli sarana produksi pertanian, Gupuh dan para trans migran di desa ini tidak lagi berpikir yang murah. “Kami nggak mikir murah. Ma hal kami beli asalkan terbukti bisa me – ningkatkan produksi,” kata Gupuh. “PAT selalu menjaga mutu produknya,” timpal Syafrudin